Me

Puncak Gunung BuluSaraung.

01.12.09

lhyciyub.

Me

Tetap tersenyum walaupun banyak masalah yang menimpa.

Teknik Elektronika

Solder 011.

Liverpool FC

you'll never walk alone.

Tampilkan postingan dengan label Keguruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keguruan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

Tokoh-Tokoh Belajar dan Pembelajaran Beserta Eksperimen yang Berhubungan dengan Pembelajaran




1.    Edward Lee Thorndike
Objek eksperimen Thorndike, yaitu seekor kucing. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain merupakan hubungan antara stimulus (perangsangan) merupakan respon (jawaban, tanggapan, reaksi). Belajar adalah pembentukan stimulus-respon sebanyak-banyaknya.
Seekor kucing yang dilaparkan dimasukkan dalam suatu kotak percobaan (problem box) yang merupakan suatu labyrinth, banyak jalan yang berliku, menyesatkan, dan hanya satu jalan yang benar menuju tujuan. Di ujung problem box, dimasukkan makanan, kucing yang kelaparan itu membaui makanan, maka dia akan berusaha mencapai makanan itu dengan berbagai jalan, seringkali tersesat, kembali berputar ketempat semula, atau menemui jalan buntu. Namun, sekali kucing tersebut menemukan jalan ke arah makanan, pada percobaan berikutnya dia akan melalui jalan yang langsung menuju makanan.

2.    Ivan Pavlov
Teori pengkodisian klasik merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Belajar merupakan suatu apaya untuk mengkodisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.
Objek eksperimen Pavlov, yaitu seekor anjing. Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov tentang keluarnya air liur anjing. Air liur akan keluar, apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Terlebih dulu Pavlov membunyikan bel sebelum anjing diberi makanan. Pada percobaan berikutnya begitu mendengar bel, otomatis air liur anjing akan keluar, walau belum melihat makanan, artinya perilaku individu dapat dikondisikan.

3.   Wolfgang Kohler
Semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. insight yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.




Objek eksperimen Kohler ialah seekor simpanse dimasukkan dalam sangkar atau ruangan dan didalam sangkar tersebut terdapat sebatang tongkat. Diluar sangkar diletakkan sebuah pisang. Problem yang dihadapi oleh simpanse adalah bagaimana simpanse dapat mengambil pisang untuk dimakan. Pada awalnya simpanse berusaha mengambil pisang tersebut, tetapi selalu gagal karena tangannya tidak sampai untuk mengambil pisang tersebut. Kemudian simpanse melihat sebatang tongkat dan timbulah pengrtian untuk meraih pisang dengan menggunakan tongkat tersebut. Begitu juga ketika ada dua tongkat, karena tidak dapat dirahnya pisang tersebut dengan tongkat satu. Tiba-tina muncul insight dalam diri simpanse dan menyambung dan akhirnya berhasil.

4.  Edwin Guthrie
Guthrie juga mengemukakan bahwa “hukuman” memegang peran penting dalam belajar. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang setiap kali pulang sekolah, selalu mencampakkan baju dan topinya di lantai. Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan topi dipakai kembali oleh anaknya, lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungan. Setelah beberapa kali melakukan hal itu, respons menggantung topi dan baju menjadi terisolasi dengan stimulus memasuki rumah. Meskipun demikian, nantinya faktor hukuman ini tidak lagi dominan dalam teori-teori tingkah laku.

5.  Jean-Jacques Rousseau
Menyatakan bahwa anak-anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam. Melalui belajar, anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut.
Sesungguhnya anak memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan, dan mengembangkan dirinya sendiri. Anak-anak akan berkembang secara alamiah. Guru tidak perlu banyak turut campur mengatur anak, biarkan dia belajar sendiri, yang penting perlu diciptakan situasi belajar yang rileks, menarik, dan bersifat alamiah. Guru diharapkan lebih mementingkan perkembangan kematangan daripada menyibukkan diri dengan menanamkan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan tertentu.

TOKOH-TOKOH PENGANUT TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


 
1.        BEHAVIORISME
Para ahli yang mengembangkan teori ini antara lain E.L. Thorndike, Ivan Pavlov, B.F. Skinner, J.B. Watson, Clark Hull dan Edwin Guthire.
a.    Connectionism (S-R Bond) menurut Edward Lee Thorndike
Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain merupakan hubungan antara stimulus (perangsang) merupakan respon (jawaban, tanggapan, reaksi), diistilahkan S-R bond.
b.   Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov
Teori pengkondisian klasik merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.
c.    Teori Belajar Menurut Edwin Guthri
Hukum belajar yang dihasilkan dari penyelidikannya adalah Law of Contiguity atau hukum hubungan. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
d.   Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull adalah seorang behavioris yang amat terpengaruh oleh toeri evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap betahan hidup (struggle for existence).
e.    Operant Conditioning Menurut B.F. Skinner
Teori ini dilandasi oleh adanya penguatan (reinforcement). Bedanya dengan teori pengondisian klasik dari Pavlov, kalau pada teori Pavlov yang diberi kondisi adalah stimulus (S)nya, maka pada teori operant conditioning yang diberi kondisi adalah respon (R)nya.
f.     Teori Belajar Sosial (Social Learning) Menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial disebut juga teori peembelajaran observasional, dikembangkan oleh Albert Bandur. Berbeda dengan para behavioris lain, Bandura memandang bahwa perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis terdapat stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat dari reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu snediri.



2.        Kognitivisme
a.   Teori Kognitif Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang padanan artinya bentuk atau konfigurasi. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu kesuluruhan yang terorganisasi, pandangan gestalt lebih menekankan kepada perilaku molar. Dimana perilaku molar adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar.

b.   Teori belajar medan kognitif dari kurt lewin
Kurt Lewin mengembangkan teori belajar medan kognitif dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Belajar berlangsung sebagai akibat perubahan struktur kognitif.

c.    Teori perkembangan Kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif disebut pula teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan mental. Teori ini berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap-tahap perkembangan intelektual sejak lahir dsampai dewasa.

d.   Teori Discovery Learning dari Jerome S. Bruner
Jerome Seymour Bruner adalah imigran dari polandia yang dibesarkan di New York. Dasar dari teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif saat belajar dikelas. Konsepnya adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak.

e.    Teori Belajar dari Robert M.Gagne
Gagne menggabungkan ide-ide behaviorisme dan kognitivisme dalam pembelajar. Menuru Gagne, dalam pemebelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

f.     Teori Belajar Bermakna dari David P. Ausubel
Ausubel mengawali teorinya dengan melakukan kritik terhadap teori pembelajaran menurut konsep neobehaviorisme, karya difokuskan kepada pembelajaran verbal.



3.        Konstruktivisme
a.   Teori Konstruktivisme Piaget
Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa perkembangan anak bermakna membangun struktur kognitivnya atau peta mentalnya atau konsep jejaring untuk memahami dan menanggapi pengalaman fisik dalam lingkungan disekelilingnya.

b.   Teori Konstruktivisme Sosial dari Vygotsky
Sebagai seseorang yang dianggap pionir dalam filosofi konstruktivisme, Vygotsky lebih suka menyatakan teori pembelajarannya sebagai pembelajaran kognisi sosial. Pembelajaran kognisi sosial menyakini bahwa kebudayaan merupakan penentu utama bagi pengembangan individu.